<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Alumni Smadangawi &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://alumni.smadangawi.net/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alumni.smadangawi.net</link>
	<description>Alumni Smadangawi Bergerak PASTI</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Dec 2011 10:16:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Tetap Semangat Menggiring Bola</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/tetap-semangat-menggiring-bola/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/tetap-semangat-menggiring-bola/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Dec 2011 22:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[alumni]]></category>
		<category><![CDATA[futsal]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah kesibukan semua AlumniSmada yang ada di Jabodetabek ini, dikoordinasikan oleh Heri DC &#8211; BKF (Alumnismada 2003) dan Sawer &#8211; Staff STIAMI (Alumnismada 2007) Futsal Alumnismada mulai menggeliat lagi. Semakin semangat lagi menggiring bola di Arena Futsal Semanggi, Minggu 18 Desember 2011 kemarin. Sedikitnya ada 16 Alumnismada yang hadir dalam acara futsal bareng dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_223" class="wp-caption aligncenter" style="width: 534px"><img src="http://alumni.smadangawi.net/wp-content/uploads/2011/12/IMG-20111218-00165-1024x768.jpg" alt="Sparing dengan Alumni Moklet Malang" title="Sparing dengan Alumni Moklet Malang" width="524" height="368" class="size-large wp-image-223" /><p class="wp-caption-text">Sparing dengan Alumni Moklet Malang</p></div>
<p align="justify">Di tengah kesibukan semua <a href="http://alumni.smadangawi.net">AlumniSmada</a> yang ada di Jabodetabek ini, dikoordinasikan oleh <strong>Heri DC</strong> &#8211; BKF (Alumnismada 2003) dan <strong>Sawer</strong> &#8211; Staff STIAMI (Alumnismada 2007) Futsal Alumnismada mulai menggeliat lagi. Semakin semangat lagi menggiring bola di Arena Futsal Semanggi, Minggu 18 Desember 2011 kemarin.</p>
<p align="justify">Sedikitnya ada 16 Alumnismada yang hadir dalam acara futsal bareng dan kebetulan ada lawan tanding dari Alumni SMK Telkom Malang Sandhi Putra. </p>
<p align="justify">Pemanasan sudah dimulai dari jam 9 lewat 45 menit, pertandingan tak resmipun dimulai jam 10.15 dan berlangsung cukup lama sampai jam 13.00 WIB</p>
<p align="justify">Teercatat ada 6 gol yang dicetak oleh <strong>Kunnang Heru Kuncahyo</strong> &#8211; LintasArtha (Alumnismada 2001) dan juga sekitar 7 gol juga yang dijebloskan oleh <strong>Tri Marhendra</strong>- BPK RI (Alumnismada 2001).</p>
<p align="justify">Luar biasa stamina kawan &#8211; kawan ini, ada 2 orang Alumni 98 yang turut meramaikan Arena Futsal di kawasan SCBD Sudirman ini, Mas Kaesto -BKF dan Mas Nur Wahid Arif -FIF Pusat. Dan banyak dari teman &#8211; teman angkatan yang lain.</p>
<p align="justify">Tim Alumnismada menjebol gawang lawan sebanyak 17 Gol dan diimbangi dengan 11 Gol dari lawan Sparing kali ini. Meriah dan menyenangkan meskipun tak banyak juga alumni &#8211; alumni yang berdomisili di Jakarta ini bisa turut serta.</p>
<p align="justify">Makin semangat dan terus semangat, ayoo tim futsal <a href="http://alumni.smadangawi.net">Alumnismada</a>, mari kita tunjukkan rasa cinta olahraga kita untuk merajut silaturrohim dan kebersamaan ini.</p>
<p> Dokumentasi video : <a href="http://youtu.be/sG5xykufdDQ" target="_blank">Klik disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/tetap-semangat-menggiring-bola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Lokal Indonesia dan Manfaatnya</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/buah-lokal-indonesia-dan-manfaatnya/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/buah-lokal-indonesia-dan-manfaatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 07:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[buah]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kulit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Buah-buahan sebagai makanan yang sehat diperlukan oleh tubuh. Beraneka macam buah dengan berbagai kandungan vitamin dan mineral dapat kita temui. Mulai dari buah lokal sampai buah impor. Artikel kali ini akan membahas berbagai buah lokal yang dikenal dan tidak kalah gizinya dengan buah impor. Berbagai buah lokal di Indonesia merupakan buah yang memiliki rasa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Buah-buahan sebagai makanan yang sehat diperlukan oleh tubuh. Beraneka macam buah dengan berbagai kandungan vitamin dan mineral dapat kita temui. Mulai dari buah lokal sampai buah impor. Artikel kali ini akan membahas berbagai buah lokal yang dikenal dan tidak kalah gizinya dengan buah impor.
</p>
<p align="justify">
Berbagai buah lokal di Indonesia merupakan buah yang memiliki rasa yang nikmat. Buah-buahan ini merupakan jenis buah tropis. Ternyata berbagai buah lokal ini selain nikmat untuk disantap memiliki banyak manfaat bahkan untuk kesehatan. Berikut ini beberapa di antaranya.
</p>
<p><span id="more-208"></span></p>
<ul>
<li>Sawo
<p align="justify">Sawo matang merupakan salah satu jenis warna kulit yang biasa diberikan bagi yang memiliki kulit sedikit gelap. Hal ini tidak mengherankan karena kulit dan daging buah sawo berwarna cokelat dengan rasa yang sangat manis. Kaya akan karbohidrat karena 20% bagiannya terdiri dari gula. Sawo mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C dan kandungan potasium yang tinggi sehingga baik untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.</p>
</li>
<li>Kesemek
<p align="justify">
Kesemek merupakan buah yang seperti memakai bedak, karena pada bagian kulitnya terdapat bagian putih yang seperti bedak. Dapat digunakan untuk menjaga kesehatan gigi karena mengandung fluoride serta berguna untuk menjaga kesehatan gusi dan mulut.</p>
</li>
<li>Jeruk Bali
<p align="justify">
Jeruk bali memiliki kulit yang tebal dan seperti spons. Bentuknya seperti jeruk, tetapi dalam ukuran yang lebih besar dan berwarna putih atau merah muda. Flavonoid, pektin dan likopen merupakan senyawa yang terdapat di dalamnya. Berfungsi untuk menurunkan kolesterol, mencegah anemia dan mengurangi risiko penyakit jantung. Selain itu, kulit dari jeruk bali bisa dibuat menjadi berbagai kerajinan yang menarik.</p>
</li>
<li>Jambu Air
<p align="justify">
Jambu air dengan warna merah atau hijau yang khas. Buah ini banyak mengandung air. Buah yang langsung dimakan dengan kulitnya ini memiliki kandungan vitamin A, C, kalsium dan protein. Manfaatnya untuk menjaga kelembapan kulit dan serat untuk pencernaan.</p>
</li>
<li>Jambu Biji Merah
<p align="justify">
Jambu biji merupakan buah dengan kandungan vitamin C yang sangat tinggi selain kandungan kalsium, zat besi, fosfor, vitamin A dan B1. Sebaiknya memakan buah ini beserta kulitnya karena pada daging dekat kulit yang mengandung vitamin C paling banyak.</p>
</li>
<li>Duku
<p align="justify">
Duku merupakan buah dengan bentuk bulat kecil dan memiliki daging buah yang cenderung bening. Memiliki banyak mineral seperti kalsium, fosfor dan zat besi. Berguna untuk sistem pencernaan dan mengobati diare.</p>
</li>
<li>Belimbing
<p align="justify">
Starfruit adalah namanya dalam bahasa Inggris. Buah belimbing ini memang berbentuk bintang dengan lima sudut. Kandungan vitamin E di dalamnya bermanfaat untuk kecantikan kulit. Buah ini juga dipercaya dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.</p>
</li>
<li>Manggis
<p align="justify">
Tebak-tebak buah manggis. Buah ini memang sering dijadikan bahan tebak-tebakan untuk menebak jumlah isi di dalamnya. Walaupun kulitnya berwarna hitam, tetapi dagingnya berwarna putih dan memiliki manfaat yang besar karena kandungan antioksidan, antibiotik dan antivirus yang tinggi. Buah ini dapat meredakan kelelahan dan mengatasi masalah vertigo.</p>
</li>
<li>Sirsak
<p align="justify">
Sirsak biasa dimakan dengan ditambahkan gula, sirop atau dibuat jus. Kulitnya berwarna hijau dan daging berwarna putih. Manfaatnya sebagai pengatur kadar gula dalam darah dan melawan bakteri dalam tubuh.</p>
</li>
<li>Salak
<p align="justify">
Salak pondoh merupakan jenis salak di Indonesia yang dikenal memiliki kualitas yang paling baik. Rasanya yang manis dan garing membuat buah ini cukup disukai. Buah bersisik coklat ini dapat meringankan buang-buang air yang terus menerus. Hal ini juga yang hendaknya membuat Anda tidak terlalu banyak mengkonsumsinya, karena bisa-bisa Anda jadi sulit untuk buang air.</p>
</li>
<li>Rambutan
<p align="justify">
Buah rambutan dengan ciri khas memiliki rambut dapat ditemui dengan mudah pada musimnya. Buahnya yang berwarna putih manis disukai anak-anak sampai orang dewasa. Kandungan antioksidan pada dagingnya sangat besar, sehingga baik untuk kesehatan. Salah satu yang memiliki rasa yang nikmat adalah rambutan rapiah.</p>
</li>
<li>Nanas
<p align="justify">
Daging buah nanas berwarna kuning dengan rasa asam manis, menjadi salah satu buah favorit dalam rujak. Manfaat dari nanas antara lain dapat membantu masalah pada penyempitan pembuluh darah yang tertutup lemak, membantu pencernaan dan berguna untuk Anda yang sedang diet.</p>
</li>
<li>Pepaya
<p align="justify">
Buah pepaya memiliki daging berwarna oranye dan berbiji hitam bulat-bulat kecil. Betakaroten merupakan kandungan gizi yang tertinggi di dalamnya. Buah ini juga dapat menghambat pertumbuhan sel kanker payudara.</p>
</li>
<li>Mangga
<p align="justify">
Salah satu buah yang banyak disukai yaitu mangga. Buah yang masih muda biasa diidamkan wanita hamil karena rasanya yang asam. Tetapi, jika telah matang, dagingnya yang berwarna kuning akan terasa manis karena kandungan gula yang cukup tinggi. Bermanfaat untuk kesehatan kulit dan mengendalikan tekanan darah.</p>
</li>
</ul>
<p align="justify">Selain lebih murah, menikmati buah lokal menjadi salah satu variasi dalam menikmati segarnya buah. Jadi, jangan ragu untuk mencicip kesegaran dari buah-buahan hasil negeri sendiri dan rasakan kenikmati sekaligus manfaatnya.|KumpulanInfo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/buah-lokal-indonesia-dan-manfaatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Mencintai Pekerjaan</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/belajar-mencintai-pekerjaan/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/belajar-mencintai-pekerjaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 02:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mencintai]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[anyak orang yang merasa tertekan dengan pekerjaannya. Melaksanakan pekerjaan kantor hanya sebagai rutinitas agar dapat memperoleh penghasilan semata. Saat jam kerja, selalu menunggu jam makan siang, jam pulang, hari libur, akhir pekan, atau tanggal gajian. Bila ini terjadi, waktu mungkin terasa lama dan Anda enggan untuk bekerja. Bila Anda belum atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="dropcap">B</span><!--/.dropcap-->anyak orang yang merasa tertekan dengan pekerjaannya. Melaksanakan pekerjaan kantor hanya sebagai rutinitas agar dapat memperoleh penghasilan semata. Saat jam kerja, selalu menunggu jam makan siang, jam pulang, hari libur, akhir pekan, atau tanggal gajian. Bila ini terjadi, waktu mungkin terasa lama dan Anda enggan untuk bekerja. Bila Anda belum atau tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain, Anda dapat berusaha untuk mencintai pekerjaan tersebut karena tentu akan lebih menyenangkan bila kita mengerjakan hal yang disukai. Tetapi, bagaimana agar Anda dapat menyukai pekerjaan yang membosankan itu?
</p>
<h3>Cara Mencintai Pekerjaan</h3>
<p align="justify">
&#8220;Love Your Job But Never Fall In Love With Your Company&#8221; — sebuah pernyataan umum yang menganjurkan orang untuk mencintai pekerjaannya dan jangan mencintai perusahaan. Mengapa? Karena sewaktu-waktu bisa saja perusahaan menyingkirkan Anda kapan pun. Namun bagaimana cara mencintai pekerjaan Anda? Berikut ini beberapa tips menarik untuk mencintai pekerjaan Anda.</p>
<ol>
<li><strong>Antusias terhadap Pekerjaan</strong></br>
<p align="justify">Bila Anda tidak menyukai pekerjaan Anda, tentu tidak akan mudah bagi Anda untuk melaksanakan tugas-tugas kantor. Anda akan merasa terbebani dengan tugas yang diberikan sehingga hasil kerja tidak maksimal. Sebaliknya, bila seseorang mengerjakan sesuatu yang disenangi tentu hal itu akan terasa menyenangkan, waktu terasa singkat, dan Anda memiliki semangat untuk mengerjakannya. Misalnya, seseorang yang senang menggambar akan antusias bila ditugasi untuk membuat desain rumah, menjadi arsitek, atau pekerjaan lain.</p>
<p align="justify">Untuk itu, bersikaplah seolah-olah Anda menyukai dan menikmati pekerjaan Anda. Beri perhatian penuh pada apa yang sedang Anda kerjakan. Mungkin kelihatannya mustahil untuk menyukai pekerjaan Anda sekarang. Tetapi, paksakan diri Anda untuk melakukan ini. Tersenyum atau berdiri dengan tegak dapat membantu untuk dapat lebih bersikap antusias. Hasilnya, Anda dapat merasakan benar-benar menyukai pekerjaan tersebut.
</p>
</li>
<li><strong>Lakukan yang Terbaik</strong></br>
<p align="justify">Hindari menuda pekerjaan atau bersikap masa bodoh atas hasil pekerjaan Anda. Ini dapat membuat Anda merasa stres akibat pekerjaan yang tidak selesai, semakin menumpuk atau terkena omelan atasan.
</p>
<p align="justify">
Jangan melakukan pekerjaan dengan asal-asalan tetapi berikan lebih dari apa yang diperintahkan. Tetapkan prioritas pekerjaan agar pekerjaan yang penting bisa diselesaikan terlebih dahulu. Anda juga dapat memotivasi diri Anda sendiri untuk memberikan yang terbaik. Misalnya, Anda dapat mencatat waktu berapa lama Anda dapat menyelesaikan pekerjaan atau hal lain untuk mengukur produktivitas. Kemudian, tantang diri Anda untuk melakukan yang lebih baik lagi dalam tugas berikutnya.
</p>
</li>
<li><strong>Melakukan Lebih</strong></br>
<p align="justify">Bila mendapat tugas, jangan merasa puas karena melakukan apa yang diharapkan. Nilai plus dari atasan dan kepuasan bisa didapatkan bila Anda kreatif untuk lebih memperindah pekerjaan Anda. Misalnya, dengan menambah informasi pendukung ketika ditugasi untuk mengolah suatu data. Atau bila Anda menyukai teknologi tetapi Anda bekerja di bagian akunting, Anda dapat mencari terobosan teknologi yang dapat membantu Anda menyelesaikan tugas dengan lebih cepat.
</p>
</li>
<li><strong>Lihat Sisi Positif</strong></br>
<p align="justify">Walau Anda merasa pekerjaan sangat menjenuhkan, tidak pernah selesai, atasan yang galak, atau rekan kerja yang menyebalkan, tetapi cobalah untuk melihat hal positifnya. Bandingkan keadaan kita dengan orang lain yang tidak seberuntung kita. Bagaimana orang-orang yang masih belum mendapat pekerjaan, orang-orang yang pekerjaan lebih berat dari kita, atau bagaimana orang yang penghasilannya tidak sebanyak kita.
</p>
<p align="justify">
Cobalah mengingat bagaimana saat Anda berusaha mendapatkan pekerjaan ini, misalnya bagaimana saat itu Anda harus naik kendaraan umum, bagaimana pertama kali Anda belum mengenal rekan kerja lainnya, ketika Anda masih bingung dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Mengingat perjuangan ini dapat membantu Anda lebih mencintai pekerjaan.
</p>
</li>
<li><strong>Teruslah Belajar</strong></br>
<p align="justify">Tugas kantor terasa berat mungkin karena Anda belum sepenuhnya mengerti. Seorang pekeja yang merasa berat saat ditugasi membuat suatu pekerjaan, bisa jadi karena dia belum sepenuhnya memahami konsep tentang pekerjaan tersebut. Misalnya seseorang ditugasi membuat laporan di Excel dengan pivot table, tentu bukan hal yang biasa, tapi bisa dipelajari.
</p>
<p align="justify">
Maka, untuk menambah pengetahuan, Anda dapat mencari tahu lebih banyak dari Internet, buku, atau dari orang lain yang lebih memahaminya. Bila memungkinkan, Anda dapat pula mengikuti kursus-kursus. Cara lainnya adalah dengan memperhatikan contoh-contoh yang ada. Dengan mengetahui lebih banyak, Anda akan lebih mudah melakukannya.
</p>
</li>
<li><strong>Beri Penghargaan</strong></br>
<p align="justify">Bila Anda tidak mendapatkan penghargaan dari orang lain ketika Anda berhasil melaksanakan tugas yang diberikan, Anda dapat memberikan penghargaan untuk diri sendiri. Anda dapat memberi pujian untuk diri sendiri untuk target yang dicapai atau merayakan keberhasilan Anda. Tentu saja, hal ini jangan dilakukan secara berlebihan.
</p>
<p align="justify">
Hindari sikap untuk membenci pekerjaan Anda karena ini akan membuat Anda semakin tertekan, merasa stres dan hasil pekerjaan tidak maksimal. Berusahalah untuk belajar mencintai pekerjaan Anda untuk hasil pekerjaan yang lebih baik. Dengan hasil pekerjaan yang baik, pekerjaan tidak menumpuk, Anda dapat memperoleh kepuasan, pujian dari atasan, promosi jabatan dan bukan tidak mungkin memperoleh gaji yang lebih baik lagi.</p>
<p>/kumpulan info/</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/belajar-mencintai-pekerjaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Bersepeda dengan Sepeda yang Cocok</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/ayo-bersepeda-dengan-sepeda-yang-cocok/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/ayo-bersepeda-dengan-sepeda-yang-cocok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 07:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bike]]></category>
		<category><![CDATA[gowes]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[ersepeda merupakan salah satu olahraga yang sedang digemari. Selain dapat membuat tubuh sehat, bersepeda merupakan salah satu cara untuk mengurangi pencemaran udara akibat kendaraan bermotor. Tidak heran, jika kita sering melihat keberadaan sepeda di jalan-jalan raya. Bahkan, komunitas Bike To Work menjadikan sepeda sebagai alat transportasi ke tempat kerja. Jenis sepeda yang dapat dipilih bermacam-macam, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="dropcap">B</span><!--/.dropcap-->ersepeda merupakan salah satu olahraga yang sedang digemari. Selain dapat membuat tubuh sehat, bersepeda merupakan salah satu cara untuk mengurangi pencemaran udara akibat kendaraan bermotor. Tidak heran, jika kita sering melihat keberadaan sepeda di jalan-jalan raya. Bahkan, komunitas Bike To Work menjadikan sepeda sebagai alat transportasi ke tempat kerja. Jenis sepeda yang dapat dipilih bermacam-macam, sehingga menarik untuk mengetahui model sepeda.</p>
<h2>Jenis Sepeda</h2>
<p align="justify">Melihat jenis sepeda yang bernaeka ragam, mungkin membuat Anda bingung tentang beda dan fungsinya. Jika Anda sedang tertarik untuk membeli sepeda baik sebagai hobi, untuk kegiatan kantor atau ingin menggunakannya sebagai sarana transportasi, keterangan berikut dapat membantu Anda.</p>
<ol>
<li>
<h4>Single Speed</h3>
<p align="justify">Sepeda yang cocok digunakan di daerah perkotaan yang minim hambatan. Hanya memiliki 1 gir, sehingga pengendaranya tidak perlu mengatur kecepatan pada sepeda.</p>
<li>
<h4>Road Bike</h3>
<p align="justify">Sepeda yang biasa digunakan pada jalan raya yang mulus atau beraspal. Cocok jika Anda menggunakan untuk bekerja di daerah perkotaan yang umumnya melewati jalan yang sudah beraspal baik. Merupakan salah satu jenis sepeda yang banyak dipilih, jenis sepeda ini masih terbagi atas beberapa model lainnya.</p>
</li>
<li>
<h4>Endurance Road Bike</h3>
<p align="justify">Ditujukan untuk melalui jalanan yang tidak mulus. Sepeda dibuat dengan lebih kuat sehingga dapat dipilih jika Anda sering melewati jalanan berbatu atau off road.</p>
</li>
<li>
<h4>Competitive Road Bike</h3>
<p>Merupakan jenis sepeda balap yang biasa digunakan untuk pertandingan. Karena fungsinya tersebut, sepeda ini hanya memiliki berat 5 kg, sehingga sangat mudah untuk diangkat.</p>
</li>
<li>
<h4>Time Trial Bike</h3>
<p align="justify">Termasuk pengembangan dari Competitive Road Bike. Digunakan untuk pertandingan yang memerlukan kecepatan. Didesain dengan bentuk aerodinamis yang dapat menahan terpaan angin yang dapat menghambat lajunya. Seperti sepeda balap pada umumnya, sepeda ini sangat ringan.</p>
</li>
<li>
<h4>Commute Bike</h3>
<p align="justify">Desainnya mirip sepeda balap tetapi ditambahkan fasilitas lainnya sesuai dengan kebutuhan yang sering digunakan.</p>
</li>
<li>
<h4>Mountain Bike</h3>
<p align="justify">Biasa dikenal dengan sepeda gunung. Sepeda ini digunakan untuk pengendara yang senang berpetualang di alam bebas. Didesain agar dapat menaklukan jalanan alam bebas atau pegunungan yang tidak mulus dan menantang.</p>
</li>
<li>
<h4>All Mountain Bike</h3>
<p align="justify">Kelebihannya ada pada fitur shock absorber yang biasa dilalui oleh sepeda gunung. Cocok untuk jalan yang terjal karena mampu membuat pengendara tetap nyaman.</p>
</li>
<li>
<h4>Free Ride Bike</h3>
<p align="justify">Ditujukan untuk menaklukan medan jalan yang ekstrem.</p>
</li>
<li>
<h4>Downhill Bike</h3>
<p>Sepeda ini sangat cocok digunakan untuk menuruni gunung dengan kecepatan tinggi.</p>
</li>
<li>
<h4>Cross Country Bike</h3>
<p align="justify">Jika Anda akan melewati medan yang bervariasi. Misal, melalui jalanan beraspal, tanah, datar, menanjak atau menurun, Anda dapat menggunakan sepeda jenis ini untuk melakukan perjalanan.</p>
</li>
<li>
<h4>Dirt Jump Bike</h3>
<p align="justify">Sepeda yang biasa digunakan dalam atraksi-atraksi sepeda. Pengendara dapat melakukan lompatan dengan sepedanya.</p>
</li>
<li>
<h4>Sepeda Lipat</h3>
<p align="justify">Jenis sepeda yang banyak dipilih karena kepraktisannya. Seperti namanya, sepeda ini dapat dilipat sehingga memudahkan untuk dibawa-bawa. Anda mungkin dapat melihat, pengendara yang melipat sepedanya dan naik kereta atau bus. Sehingga jika seluruh perjalanan tidak mungkin ditempuh dengan sepeda, maka dengan sepeda lipat Anda dapat menggunakan transportasi lain untuk sampai ke tujuan. Penyimpannya juga tidak membutuhkan ruang yang besar, karena dapat dilipat.</p>
</li>
</ol>
<p align="justify">Sepeda memang alat transportasi yang mengasyikan. Selain bebas polusi, mengayuh sepeda juga dapat menyehatkan. Maka, jangan segan-segan untuk mencoba bersepeda karena kegiatan olahraga tidak akan terasa memberatkan, apalagi jika dilakukan beramai-ramai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/ayo-bersepeda-dengan-sepeda-yang-cocok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kemampuan Individu (Kecerdasan dan Bakat)</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/kemampuan-individu-kecerdasan-dan-bakat/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/kemampuan-individu-kecerdasan-dan-bakat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 23:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan. bakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Kecakapan individu dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu kecakapan nyata (actual ability) dan kecakapan potensial (potential ability). Kecakapan nyata (actual ability) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (achivement atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang. Misalkan, setelah selesai mengikuti proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Kecakapan individu dapat dibagi kedalam   dua bagian yaitu kecakapan nyata (<em>actual ability</em>) dan  kecakapan  potensial (<em>potential ability</em>). Kecakapan nyata (<em>actual   ability</em>) yaitu kecakapan yang diperoleh melalui belajar (<em>achivement</em> atau prestasi), yang dapat segera didemonstrasikan dan diuji sekarang.
</p>
<p align="justify">
Misalkan, setelah selesai mengikuti   proses perkuliahan (kegiatan tatap muka di kelas), pada akhir   perkuliahan mahasiswa diuji oleh dosen tentang materi yang   disampaikannya (tes formatif). Ketika mahasiswa mampu menjawab dengan   baik tentang pertanyaan dosen, maka kemampuan tersebut merupakan atau   kecakapan nyata (<em>achievement</em>).</p>
<p align="justify">
Sedangkan kecakapan potensial merupakan   aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh   dari faktor keturunan (<em>herediter</em>). Kecakapan potensial dapat   dibagi ke dalam dua bagian yaitu kecakapan dasar umum (<em>inteligensi </em>atau   <em>kecerdasan</em>) dan kecakapan dasar khusus (bakat atau <em>aptitudes</em>).   C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian inteligensi sebagai <em>kemampuan   menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat  dan  efektif.</em> Pada awalnya teori inteligensi masih bersifat   unidimensional (kecerdasan tunggal), yakni hanya berhubungan dengan   aspek intelektual saja, seperti teori inteligensi yang dikemukakan oleh   Charles Spearman (1904) dengan teori “<em>Two Factors</em>”-nya.  Menurut  pendapatnya bahwa inteligensi terdiri dari kemampuan umum yang  diberi  kode “<em>g</em>” (<em>genaral factor</em>) dan kemampuan khusus  yang  diberi kode “<em>s</em>” (<em>specific factor</em>). Selanjutnya,   Thurstone (1938) mengemukakan teori “<em>Primary Mental Abilities</em>”,   bahwa inteligensi merupakan penjelmaan dari kemampuan primer, yaitu :   (1) kemampuan berbahasa (<em>verbal comprehension</em>); (2) kemampuan   mengingat (<em>memory</em>); (3) kemampuan nalar atau berfikir (<em>reasoning</em>);   (4) kemampuan tilikan ruangan (<em>spatial factor</em>); (5) kemampuan   bilangan (<em>numerical ability</em>); (6) kemampuan menggunakan   kata-kata (<em>word fluency</em>); dan (7) kemampuan mengamati dengan   cepat dan cermat (<em>perceptual speed</em>).</p>
<p align="justify">
Sementara itu, J.P. Guilford   mengemukakan bahwa inteligensi dapat dilihat dari tiga kategori dasar   atau “<em>faces of intellect</em>”, yaitu:
</p>
<p align="justify">
a. Operasi Mental (Proses   Befikir)</p>
<ol>
<li><em>Cognition</em> (menyimpan informasi yang lama dan menemukan   informasi yang baru).</li>
<li><em>Memory Retention </em>(ingatan yang berkaitan dengan kehidupan   sehari-hari).</li>
<li><em>Memory Recording</em> (ingatan yang segera).</li>
<li><em>Divergent Production</em> (berfikir melebar=banyak kemungkinan   jawaban/ alternatif).</li>
<li><em>Convergent Production</em> (berfikir memusat= hanya satu   kemungkinan jawaban/alternatif).</li>
<li><em>Evaluation</em> (mengambil keputusan tentang apakah suatu itu   baik, akurat, atau memadai).</li>
</ol>
<p>b. <em>Content </em>(Isi yang  Dipikirkan)</p>
<ol>
<li><em>Visual (bentuk konkret atau gambaran).</em></li>
<li><em>Auditory. </em></li>
<li><em>Word Meaning (semantic).</em></li>
<li><em>Symbolic (informasi dalam bentuk lambang, kata-kata atau angka   dan notasi musik).</em></li>
<li><em>Behavioral</em> (interaksi non verbal yang diperoleh melalui   penginderaan, ekspresi muka atau suara).</li>
</ol>
<p>c. Product (Hasil Berfikir)</p>
<ol>
<li>Unit (item tunggal informasi).</li>
<li>Kelas (kelompok item yang memiliki sifat-sifat yang sama).</li>
<li>Relasi (keterkaitan antar informasi).</li>
<li>Sistem (kompleksitas bagian saling berhubungan).</li>
<li>Transformasi (perubahan, modifikasi, atau redefinisi informasi).</li>
<li>Implikasi (informasi yang merupakan saran dari informasi item lain).</li>
</ol>
<p align="justify">
Belakangan ini banyak orang menggugat   tentang kecerdasan intelektual (unidimensional), yang konon dianggap   sebagai anugerah yang dapat mengantarkan kesuksesan hidup seseorang.   Pertanyaan muncul, bagaimana dengan tokoh-tokoh dunia, seperti Mozart   dan Bethoven dengan karya-karya musiknya yang mengagumkan, atau Maradona   dan Pele sang legenda sepakbola dunia,. Apakah mereka termasuk juga   orang-orang yang genius atau cerdas ? Dalam teori kecerdasan tunggal   (uni-dimensional), kemampuan mereka yang demikian hebat ternyata tidak   terakomodasikan. Maka muncullah, teori inteligensi yang berusaha   mengakomodir kemampuan-kemampuan individu yang tidak hanya berkenaan   dengan aspek intelektual saja. Dalam hal ini, Howard Gardner (1993),   mengemukakan teori <em>Multiple Inteligence,</em> dengan aspek-aspeknya   sebagai berikut :
</p>
<p align="justify">
<ol>
<li>Logical – Mathematical; kepekaan dan   kemampuan untuk mengamati pola-pola logis dan bilangan serta kemampuan   untuk berfikir rasional.</li>
<li>Linguistic; kepekaan terhadap suara,   ritme, makna kata-kata, dan keragaman fungsi-fungsi bahasa.</li>
<li>Musical; kemampuan untuk   menghasilkan dan mengapresiasikan ritme. Nada dan bentuk-bentuk ekspresi   musik.</li>
<li>Spatial; Kemampuan mempersepsi dunia ruang-visual secara akurat dan   melakukan tranformasi persepsi tersebut.</li>
<li>Bodily Kinesthetic; kemampuan untuk mengontrol gerakan tubuh dan   mengenai objek-objek secara terampil.</li>
<li>Interpersonal; kemampuan untuk mengamati dan merespons suasana hati,   temperamen, dan motivasi orang lain.</li>
<li>Intrapersonal; kemampuan untuk   memahami perasaan, kekuatan dan kelemahan serta inteligensi sendiri.</li>
</ol>
<p>Kecakapan potensial seseorang hanya   dapat dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikatornya. Jika   kita perhatikan penjelasan tentang aspek-aspek inteligensi dari   teori-teori inteligensi di atas, maka pada dasarnya indikator kecerdasan   akan mengerucut ke dalam tiga ciri yaitu : <em>kecepatan </em>(waktu   yang singkat), <em>ketepatan </em>(hasilnya sesuai dengan yang   diharapkan) dan <em>kemudahan</em> (tanpa menghadapi hambatan dan   kesulitan yang berarti) dalam bertindak. Dengan indikator-indikator   perilaku inteligensi tersebut, para ahli mengembangkan   instrumen-instrumen standar untuk mengukur perkiraan kecakapan umum   (kecerdasan) dan kecakapan khusus (bakat) seseorang. Alat ukur   inteligensi yang paling dikenal dan banyak digunakan di Indonesia ialah <em>Tes   Binet Simon –</em> walaupun sebetulnya menurut hemat penulis alat ukur   tersebut masih terbatas untuk mengukur inteligensi atau bakat   persekolahan (<em>scholastic aptitude</em>), belum dapat mengukur aspek –   aspek inteligensi secara keseluruhan (<em>multiple inteligence</em>).   Selain itu, ada juga tes intelegensi yang bersifat lintas budaya yaitu <em>Tes   Progressive Metrices</em> (PM) yang dikembangkan oleh Raven.</p>
<p align="justify">
Dari hasil pengukuran inteligensi   tersebut dapat diketahui seberapa besar tingkat integensi (biasa disebut   IQ = <em>Intelligent Quotient </em>yaitu ukuran kecerdasan dikaitkan   dengan usia seseorang.Selain menggunakan instrumen standar, seorang guru   pada dasarnya dapat pula mendeteksi dan memperkirakan inteligensi   peserta didiknya, melalui pengamatan yang sistematis tentang indikator –   indikator kecerdasan yang dimiliki para peserta didiknya, yaitu dengan   cara memperhatikan kecenderungan <em>kecepatan</em> <em>ketepatan</em>,   dan <em>kemudahan</em> peserta didik dalam dalam menyelesaikan   tugas-tugas yang diberikan dan mengerjakan soal-soal pada saat ulangan   atau ujian, sehingga pada akhirnya akan diketahui kelompok peserta didik   yang tergolong cepat (<em>upper group</em>), rata-rata (<em>midle  group</em>)  dan lambat (<em>lower group</em>) dalam belajarnya.</p>
<p align="justify">
Untuk mengukur bakat seseorang, dapat   menggunakan beberapa instrumen standar, diantaranya : DAT (<em>Differential   Aptitude Test</em>), SRA-PMA (<em>Science Research Action – Primary   Mental Ability</em>), FACT (<em>Flanagan Aptitude Calassification Test</em>).Alat   tes ini dapat mengungkap tentang : (1) pemahaman kata; (2) kefasihan   mengungkapkan kata; (3) pemahaman bilangan; (4) tilikan ruangan; (5)   daya ingat; (6) kecepatan pengamatan; (7) berfikir logis; dan (8)   kecakapan gerak.
</p>
<p align="justify">
Perlu dicatat bahwa pengukuran tersebut,   baik menggunakan instrumen standar atau hanya berdasarkan pengamatan   sistematis guru bukanlah bersifat memastikan tingkat kecerdasan atau   bakat seseorang namun hanya sekedar memperkirakan (prediksi) saja, untuk   kepentingan pengembangan diri. Begitu juga kecerdasan atau bakat   seseorang bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan tingkat   keberhasilan atau kesuksesan hidup seseorang.
</p>
<p align="justify">
Dalam rangka Program Percepatan Belajar (<em>Accelerated   Learning</em>), Balitbang Depdiknas (1986) telah mengidentifikasi <em>ciri-ciri   keberbakatan</em> peserta didik dilihat dari aspek kecerdasan,   kreativitas dan komitmen terhadap tugas, yaitu:</p>
<p align="justify">
<ol>
<li>Lancar berbahasa (mampu mengutarakan pikirannya);</li>
<li>Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan;</li>
<li>Memiliki kemampuan yang tinggi dalam berfikir logis dan kritis</li>
<li>Mampu belajar/bekerja secara mandiri;</li>
<li>Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa);</li>
<li>Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya</li>
<li>Cermat atau teliti dalam mengamati;</li>
<li>Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah;</li>
<li>Mempunyai minat luas;</li>
<li>Mempunyai daya imajinasi yang tinggi;</li>
<li>Belajar dengan dan cepat;</li>
<li>Mampu mengemukakan dan mempertahankan pendapat;</li>
<li>Mampu berkonsentrasi;</li>
<li>Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar.</li>
</ol>
<p align="justify">
Terkait dengan proses pembelajaran, yang   perlu menjadi perhatian bahwa antara satu individu dengan individu   lainnya pada dasarnya memiliki kecakapan yang berbeda-beda. Oleh karena   itu, guru seyogyanya dapat memahami dan mengembangkan kecakapan  individu  sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.</p>
<p align="justify">
Perhatian terhadap perbedaan individu   dalam kecakapan merupakan salah satu prinsip yang harus dipenuhi di   dalam proses pembelajaran . Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan   pun telah mencantumkannya sebagai salah satu prinsip yang harus dipenuhi   dalam kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah
</p>
<p>==============================================</p>
<p>Sumber :</p>
<p>Abin Syamsuddin Makmun. 2003. <em>Psikologi Pendidikan</em>. Bandung :   PT Rosda Karya Remaja.</p>
<p>Depdiknas. 2003. <em>Pedoman   Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD, SMP dan SMA</em>.   Jakarta : Dirjen Dikdasmen.</p>
<p>Syamsu Yusuf LN.2003. <em>Psikologi   Perkembangan Anak dan Remaja</em>. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/kemampuan-individu-kecerdasan-dan-bakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konvergensi IT dan Telekomunikasi dan Keuntungan Bagi Masyarakat</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/konvergensi-it-dan-telekomunikasi-dan-keuntungan-bagi-masyarakat/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/konvergensi-it-dan-telekomunikasi-dan-keuntungan-bagi-masyarakat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 11:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[IP]]></category>
		<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[telco]]></category>
		<category><![CDATA[telekomunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[onvergensi pertama terjadi pada layanan, mobile phone dan terintegrasinya internet di fixed. Konvergensi tahap dua adalah operator telekomunikasi menjual layanan TV-Kabel Satelit. Konvergensi tahap tiga adalah sinegi jaringan antara dan fixed phone. Konvergensi tahap empat merupakan konvergensi masa depan, dimana konvergensi dibedakan 2 arah vertikal dan horizontal. Prinsip dari konvergensi IT dan telekomunikasi ini tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="dropcap">K</span><!--/.dropcap-->onvergensi pertama terjadi pada layanan, mobile phone dan terintegrasinya internet di fixed. Konvergensi tahap dua adalah operator telekomunikasi menjual layanan TV-Kabel Satelit. Konvergensi tahap tiga adalah sinegi jaringan antara dan fixed phone. Konvergensi tahap empat merupakan konvergensi masa depan, dimana konvergensi dibedakan 2 arah vertikal dan horizontal. Prinsip dari konvergensi IT dan telekomunikasi ini tak lain karena trend kebutuhan pelanggan yang menginginkan kemudahan akses teknologi, kapanpun dan dimanapun.</p>
<p align="justify">
<strong>Konvergensi Masa Depan</strong>
</p>
<p align="justify">
Revolusi teknologi informasi ditandai dengan perkembangan akses data berupa internet, yang terjadi sangat massif dan eksplosif. Hasil penelitian dari lembaga-lembaga riset dunia, seperti Merril Lynch menunjukkan bahwa pertumbuhan trafik data tersebut demikian tinggi, melampaui jumlah trafik sirkit switch, dalam waktu yang relatif cepat. Revolusi internet ini memincu konvergensi yang radikal antara layanan suara, data dan video dalam satu infrastruktur yang terpadu. Integrasi ketiga layanan tersebut familiar dengan sebutan “multimedia”.
</p>
<p align="justify">
Perkembangan multimedia tentu saja berdampak pada konvergensi jaringan telekomunikasi, untuk mendukung layanan tersebut. Konvergensi yang diperlukan adalah kemampuan mengakomodasi layanan berbasis sirkit switch dan layanan berbasis packet switch. Platform jaringan baru yang mengakomodir multi layanan masa depan adalah jaringan berbasis Softswitch menjawab konsep dan isu seputar pengembangan optimalisasi jaringan yang terpadu. Konsep ini dilewatkan dengan sistem IP (Internet Protocol).<br />
Konvergensi masa depan berbasis IP menjadi pendorong konvergensi vertikal dan horizontal. Vertikal berupa atau aplikasi dari layanan multimedia, misalnya : ring tones, musics, even tickets. Konvergensi vertikal ini menempatkan operator telekomunikasi sebagai pesaing industri media dan hiburan. Horizontal berupa layanan atau aplikasi yang dilewatkan melalui kanal mobile (bergerak), misalnya : mobile email, mobile TV, mobile new alerts. Konvergensi horizontal ini membuat “tak lagi ada jarak” antara manusia dan dunia maya.</p>
<p align="justify">
<strong>Dampak Konvergensi</strong>
</p>
<p align="justify">
Konvergensi IT dan telekomunikasi ini,akan sangat signifikan dalam mentransformasi kehidupan masyarakat, mendinamisasi persaingan bisnis, dan tentu saja, regulasi baru yang cukup rumit. Bagaimanpun perkembangan teknologi tidak mungkin dibendung lagi. Semua komponen, baik masyarakat, pengusaha dan pemerintah perlu menyiapkan posisinya terhadap era ledakan teknologi ini. Salah satu persiapan yang dilakukan pemerintah sebagai pihak regulator, sekarang tengah mengkaji konvergensi tiga Undang – Undang yaitu UU Telekomunikasi, Penyiaran dan Pers. Secara bisnis dan cost effective bagi pengusaha, konvergensi IT dan telekomunikasi sangat menjanjikan dan memberikan kemudahan dari sisi operasi, pemeliharaan dan pengoptimalan jaringan packet IP untuk pengembangan layanan ke depan.
</p>
<p align="justify">
Era ledakan teknologi informasi dan telekomunikasi bisa menjadi momentum bagi transisi masyarakat, menjadi masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan (knowledge based society). Masyarakat berbasis ilmu pegetahuan adalah yang mampu mengakses, memanfaatkan dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupannya. Transformasi masyarakat ini tentu saja merupakan kerja besar, memerlukan kerja keras dan komitmen baik dari pemerintah maupun insan telekomunikasi (operator, peguruan tinggi).
</p>
<p align="justify">
Bentuk konkret yang akan dirasakan oleh masyarakat adalah telekomunikasi murah. Koneksi pita lebar menjadi umum dan bukan barang langka, penggunaan frekuensi menjadi efektif karena bisa melewatkan beragam akses layanan, dan ujung – ujungnya harga koneksi akan sangat terjangkau. Iklim tekonologi murah dipadu dengan kebijakan pemerintah yang tepat, tentu akan mendorong perkembangan pelaku usaha nasional, termasuk pengusaha menengah maupun pengusaha kecil. Lebih ekstrimnya, koperasi pun bisa menjadi penyedia layanan on-line.</p>
<p>penulis:<br />
<strong>Franciska Sukmadewi Megawati, ST, MT</strong><br />
Alumni Smadangawi 2003</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/konvergensi-it-dan-telekomunikasi-dan-keuntungan-bagi-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Stress</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/mengelola-stress/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/mengelola-stress/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 03:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<category><![CDATA[tekanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Pada umumnya, pelaksanaan tugas selalu mengandung permasalahan dan tantangan. Masalah dan tantangan ini seringkali menimbulkan stres yang bisa mengganggu pencapaian tujuan.&#160; Stres adalah suatu kondisi tegangan (tension) baik secara faal maupun psikologis yang diakibatkan oleh tuntutan dari lingkungan yang dipersepsi sebagai ancaman. &#160;Stres merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Dalam batas tertentu, stres membantu kita agar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada umumnya, pelaksanaan tugas  selalu  mengandung permasalahan dan tantangan. Masalah dan tantangan ini   seringkali menimbulkan stres yang bisa mengganggu pencapaian tujuan.&nbsp;   Stres adalah suatu kondisi tegangan (<em>tension</em>) baik secara faal   maupun psikologis yang diakibatkan oleh tuntutan dari lingkungan yang   dipersepsi sebagai ancaman. &nbsp;Stres merupakan bagian dari kondisi   manusiawi.
</p>
<p align="justify">
Dalam batas tertentu, stres membantu kita agar tetap   termotivasi. Tetapi kadang-kadang kita terlalu banyak  mendapatkan stres sehingga  menurunkan kualitas kinerja kita (<em>distre</em>s).  Oleh karena itu,  kita perlu memiliki kemampuan mengelola stres.
</p>
<p align="justify">
Untuk bisa mengelola stres, maka langkah   yang&nbsp; harus kita lakukan adalah: mengenali gejala-gejala stres,   memahami faktor-faktor penyebab stres, dan melatih diri melakukan   mekanisme penanganannya (<em>coping mechanism</em>).</p>
<p align="justify">
Untuk kali kita akan bahas dua hal yang  pertama yaitu gejala – gejala stres dan faktor – faktor penyebab stres.
</p>
<p align="justify">
<strong>A. Gejala-gejala Stres</strong></p>
<p>Stres mempengaruhi seluruh diri kita.   Kondisi stres dapat diamati dari gejala-gejalanya, baik gejala   emosional/kognitif maupun gejala fisik. Jika kita dapat menandai   gejala-gejalanya, maka kita akan dapat mengelolanya.
</p>
<p align="justify">
Seseorang yang stres tidak berarti harus   memiliki/menampakkan seluruh gejala ini, bahkan satu gejala pun sudah   bisa kita curigai sebagai pertanda bahwa seseorang mengalami stres.   Namun kita juga perlu menyadari bahwa gejala-gejala ini bisa juga   merupakan indikator dari masalah lain, misalnya karena memang benar ada   gangguan kesehatan secara fisik.
</p>
<p align="justify">
Tabel berikut menggambarkan   gejala-gejala stres:</p>
<table border="1" cellpadding="1" cellspacing="1" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="319">Gejala Emosional/Kognitif</td>
<td valign="top" width="319">Gejala Fisik</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="319">
<ul>
<li>Mudah merasa ingin marah</li>
<li>Merasa putus asa saat harus menunggu sesuatu</li>
<li>Merasa gelisah</li>
<li>Tidak dapat berkonsentrasi</li>
<li>Sulit berkonsentrasi</li>
<li>Jadi mudah bingung</li>
<li>Bermasalah dengan ingatan (mudah lupa, susah mengingat)</li>
<li>Setiap saat memikirkan hal-hal negatif</li>
<li>Berpikir negatif tentang diri sendiri</li>
<li>Mood naik turun (mood mudah berubah-ubah, misalnya merasa          gembira tapi tak lama kemudian merasa bosan dan ingin marah)</li>
<li>Makan terlalu banyak</li>
<li>Makan padahal tidak lapar</li>
<li>Merasa tidak memiliki cukup energi untuk menyelesaikan sesuatu</li>
<li>Merasa tidak&nbsp; mampu        mengatasi masalah</li>
<li>Sulit membuat keputusan</li>
<li>Emosi suka meluap-luap (baik gembira, sedih, marah, dan sebagai-          nya)</li>
<li>Biasanya merasa marah dan bosan</li>
<li>Kurang memiliki <em>sense of humor</em></li>
</ul>
</td>
<td valign="top" width="319">
<ul>
<li>Otot-otot tegang</li>
<li>Sakit punggung bagian bawah</li>
<li>Sakit di bahu atau leher</li>
<li>Sakit dada</li>
<li>Sakit perut</li>
<li>Kram otot</li>
<li>Iritasi atau ruam kulit yang tidak dapat dijelaskan kategorinya</li>
<li>Denyut jantung cepat</li>
<li>Telapak tangan berkeringat</li>
<li>Berkeringat padahal tidak melakukan aktivitas fisik</li>
<li>Perut terasa bergejolak</li>
<li>Gangguan pencernaan dan cegukan</li>
<li>Diare</li>
<li>Tidak dapat tidur atau tidur berlebihan</li>
<li>Napas pendek</li>
<li>Menahan napas</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>B. Faktor-Faktor Penyebab Stres</strong></p>
<p>Secara umum, faktor penyebab stres   meliputi:</p>
<p><strong>1. Ancaman</strong><em>. </em>
</p>
<p align="justify">
Persepsi tentang adanya ancaman membuat   seseorang merasa stres, baik ancaman fisik, sosial, finansial, maupun   ancaman lainnya. Keadaan akan menjadi buruk bila orang yang   mempersepsikan tentang adanya ancaman ini merasa bahwa dirinya tidak   dapat melakukan tindakan apa pun yang akan bisa mengurangi ancaman   tersebut.
</p>
<p align="justify">
<strong>2. Ketakutan</strong>
</p>
<p align="justify">
Ancaman bisa menimbulkan ketakutan.   Ketakutan membuat orang membayangkan akan terjadinya akibat yang tidak   menyenangkan, dan hal ini membuat orang menjadi stres.
</p>
<p align="justify">
<strong>3. Ketidakpastian</strong>
</p>
<p align="justify">
Saat kita merasa tidak yakin tentang   sesuatu, maka kita akan sulit membuat prediksi. Akibatnya kita merasa   tidak akan dapat mengendalikan situasi. Perasaan tidak mampu   mengendalikan situasi akan menimbulkan ketakutan. Rasa takut menyebabkan   kita merasa stres.
</p>
<p align="justify">
<strong>4. Disonansi kognitif</strong>
</p>
<p align="justify">
Bila ada kesenjangan antara apa yang   kita lakukan dengan apa yang kita pikirkan, maka dikatakan bahwa kita   mengalami disonansi kognitif, dan hal ini akan dirasakan sebagai stres.   Sebagai contoh, bila kita merasa bahwa kita adalah orang yang baik,   namun ternyata menyakiti hati orang lain, maka kita akan mengalami   disonansi dan merasa stres. Disonansi kognitif juga terjadi bila kita   tidak dapat menjaga komitmen. Kita yakin bahwa diri kita jujur dan tepat   janji, namun adakalanya situasi/lingkungan tidak mendukung kita untuk   jujur atau tepat janji. Hal ini akan membuat kita merasa stres karena   kita terancam dengan sebutan tidak jujur atau tidak mampu menepati   janji.
</p>
<p align="justify">
Faktor lain yang bisa menimbulkan stres   adalah kehidupan sehari-hari, seperti:</p>
<ol>
<li>Kematian, baik kematian pasangan, keluarga, maupun teman</li>
<li>Kesehatan: kecelakaan, sakit, kehamilan</li>
<li>Kejahatan: penganiayaan seksual, perampokan, pencurian, pencopetan.</li>
<li>Penganiayaan diri: penyalahgunaan obat, alkoholisme, melukai diri   sendiri</li>
<li>Perubahan keluarga: perpisahan, perceraian, kelahiran bayi,   perkawinan.</li>
<li>Masalah seksual</li>
<li>Pertentangan pendapat: dengan pasangan, keluarga, teman, rekan   kerja, pimpinan</li>
<li>Perubahan fisik: kurang tidur, jadual kerja baru.</li>
<li>Tempat baru: berlibur, pindah rumah</li>
<li>Keuangan: kekurangan uang, memiliki uang, menginvestasikan uang.</li>
<li> Perubahan lingkungan: di sekolah, di rumah, di tempat kerja, di   kota, masuk penjara.</li>
<li>Peningkatan tanggung jawab: adanya tanggungan baru, pekerjaan baru.</li>
</ol>
<p>Di tempat kerja, selain faktor penyebab   yang bersifat umum di atas, ada 6 (enam) kelompok faktor utama penyebab   stres, yaitu:</p>
<ol>
<li>Tuntutan tugas</li>
<li>Pengendalian terhadap pegawai, yang berhubungan dengan bagaimana   para pegawai melaksanakan pekerjaannya</li>
<li>Dukungan yang didapatkan dari rekan kerja dan pimpinan</li>
<li>Hubungan dengan rekan kerja</li>
<li>Pemahaman pegawai tentang peran dan tanggung jawab</li>
<li>Seberapa jauh instansi tempat bekerja berunding dengan pegawai baru.</li>
</ol>
<p>sumber : <em>Materi Pembinaan  Profesi Pengawas Sekolah.</em> Direktorat Tenaga Kependidikan.  Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu  Pendidik dan Tenaga Kependidikan.  Departemen Pendidikan Nasional. 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/mengelola-stress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Formula of Happiness</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/the-formula-of-happiness/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/the-formula-of-happiness/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 00:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[alumni]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[formula]]></category>
		<category><![CDATA[happy]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa , eh maaf salah , sebagian besar dari kita akan menilai momen-momen bahagia itu didapatkan dari materi. Bahwa segala sesuatu bisa dinilai dengan mudah secara superficial. Bahwa sebenarnya kita tahu teori itu bullshit tapi sebagian besar dari kita tetap (pernah) terjebak dalam paradigma kuno tersebut. Parameter bahagia dan sukses apabila ini, ini dan ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">
Beberapa , eh maaf salah , sebagian besar dari kita akan menilai momen-momen bahagia itu didapatkan dari materi. Bahwa segala sesuatu bisa dinilai dengan mudah secara <em>superficial</em>. Bahwa sebenarnya kita tahu teori itu bullshit tapi sebagian besar dari kita tetap (pernah) terjebak dalam paradigma kuno tersebut.
</p>
<p align="justify">
Parameter bahagia dan sukses apabila ini, ini dan ini. Standart. Kebanyakan orang berpikir demikian. Tetapi mungkin mereka sedikit melupakan, bahwa saya adalah sedikit dari kebanyakan orang. Betapa parameter yang saya ciptakan akan (selalu) cross the limit of normality. That happiness for me is not that cliche. It is NOT.
</p>
<p align="justify">
Seperti sekarang, contohnya, momen berbicara dengan kamu, heart to heart , bercerita panjang lebar tentang mimpi, teman, keluarga dan menertawakan kebodohan di masa lalu. Kemudian saling terheran-heran bagaiman takdir kita bisa bersimpangan. How come ? <em>Destiny is so funny</em>.
</p>
<p align="justify">
<blockquote><p>You are the unexpected. Your coming is not my intended. But you are here , sitting in front of me and we talked. And somehow …. More than anything. Damn the theory of mine is right. I feel ridiculously happy. Really happy.</p></blockquote>
<p align="justify">
<blockquote><p>I remember that the meaning of  happiness in my definition   is letting yourself  to feel happy and grateful. The formula of being happy is about two things : Happy and grateful.</p></blockquote>
<p>Dan momen bahagia itu  menurut saya adalah tiga hal :Sekarang, Kamu dan Cerita-Cerita Kita. </p>
<p><code>Bella Mayvani</p>
<p>http://bellebela.wordpress.com/</code></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/the-formula-of-happiness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsep Disiplin Kerja</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/konsep-disiplin-kerja/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/konsep-disiplin-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 09:16:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[disiplin]]></category>
		<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[konsep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kaitannya dengan disiplin kerja, Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja sebagai suatu sikap menghormati, menghargai patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Sementara itu, Jerry Wyckoff dan Barbara C. Unel, (1990) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Dalam kaitannya dengan disiplin kerja, Siswanto (1989) mengemukakan disiplin kerja<span> </span>sebagai suatu sikap menghormati, menghargai patuh dan taat terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik<span> </span>yang tertulis maupun yang tidak tertulis serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak menerima sanksi-sanksi apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya. Sementara itu, <span> </span>Jerry Wyckoff dan Barbara C. Unel, (1990) mendefinisikan disiplin sebagai suatu proses bekerja yang mengarah kepada ketertiban dan pengendalian diri.</p>
<p align="justify">Dari beberapa pengertian yang diungkapkan di atas tampak bahwa disiplin pada dasarnya merupakan tindakan manajemen untuk mendorong agar para anggota organisasi dapat memenuhi berbagai ketentuan dan peraturan yang berlaku dalam suatu<span> </span>organisasi, yang di dalamnya mencakup: (1) adanya tata tertib atau ketentuan-ketentuan; (2) adanya kepatuhan para pengikut; dan (3) adanya sanksi bagi pelanggar</p>
<p align="justify">Pada bagian lain, Jerry Wyckoff dan Barbara C. Unel, (1990) menyebutkan bahwa disiplin kerja adalah kesadaran, kemauan dan kesediaan kerja orang lain agar dapat taat dan tunduk terhadap semua peraturan dan norma yang berlaku, kesadaaran kerja adalah sikap sukarela dan merupakan panggilan akan tugas dan tanggung jawab bagi seorang karyawan. Karyawan akan mematuhi atau mengerjakan semua tugasnya dengan baik dan bukan mematuhi tugasnya itu dengan paksaan. Kesediaan kerja adalah suatu sikap perilaku dan perbuatan seseorang yang sesuai dengan tugas pokok sebagai seorang karyawan. Karyawan harus memiliki prinsip dan memaksimalkan potensi kerja, agar karyawan lain mengikutinya sehingga dapat menanamkan jiwa disiplin dalam bekerja.</p>
<p align="justify">Menurut Wayne Mondy dan Robert M. Noe (1990) d<span>isiplin adalah status pengendalian diri seseorang karyawan, sebagai tanda ketertiban dan kerapian dalam melakukan kerjasama dari sekelompok unit kerja di dalam suatu organisasi (<em>someone status selfcontrol as orderliness sign order and accuration in doing cooperation from a group of unit work in a organization</em>) </span></p>
<p align="justify">Jackclass (1991) membedakan disiplin dalan dua kategori, yaitu <em>self dicipline </em>dan <em>social dicipline</em>. <em>Self dicipline</em> merupakan disiplin pribadi karyawan yang tercermin dari pribadinya dalam melakukan tugas kerja rutin yang harus dilaksanakan, sedangkan <em>social dicipline</em> adalah pelaksanaan disiplin dalam organisasi secara keseluruhan.</p>
<p align="justify">Menurut Daniel M. Colyer. 1991),<span> </span>disiplin pada umumnya termasuk dalam aspek pengawasan yang sifatnya lebih keras dan tegas <em>(hard and coherent</em>). Dikatakan keras karena ada sanksi dan dikatakan tegas karena adanya tindakan sanksi yang harus dieksekusi bila terjadi pelanggaran.</p>
<p align="justify">Terdapat dua jenis disiplin dalam organisasi, yaitu : (1) disiplin preventif dan (2) disiplin korektif<span> </span>(Sondang P. Siagaan, 1996). <em>Disiplin preventif</em> adalah tindakan yang mendorong para karyawan untuk taat kepada berbagai ketentuan yang berlaku dan memenuhi standar yang telah ditetapkan. Artinya melalui kejelasan dan penjelasan tentang pola sikap, tindakan dan prilaku yang diinginkan dari setiap anggota organisasi, untuk mencegah jangan sampai para karyawan berperilaku negatif. Keberhasilan penerapan pendisiplinan karyawan (disiplin preventif) terletak pada disiplin pribadi para anggota organisasi. <span> </span>Dalam hal ini terdapat tiga hal yang perlu mendapat perhatian manajemen di dalam penerapan disiplin pribadi, yaitu :</p>
<p align="justify">Triguno (2000) menyebutkan bahwa tujuan pokok dari pendisiplinan preventif adalah untuk mendorong karyawan agar memiliki disiplin pribadi yang tinggi, agar peran kepemimpinan tidak terlalu berat dengan pengawasan, yang dapat mematikan prakarsa, kreativitas serta partisipasi sumber daya manusia.</p>
<ol align=" justify">
<li> Para anggota organisasi perlu didorong, agar mempunyai rasa memiliki organisasi, karena secara logika seseorang tidak akan merusak sesuatu yang menjadi miliknya.</li>
<li>Para karyawan perlu diberi penjelasan tentang berbagai ketentuan yang wajib ditaati dan standar yang harus dipenuhi. Penjelasan dimaksudkan seyogyanya disertai oleh informasi yang lengkap mengenai latar belakang berbagai ketentuan yang bersifat normatif.</li>
<li>Para karyawan didorong, menentukan sendiri cara-cara pendisiplinan diri dalam rangka ketentuan-ketentuan yang berlaku umum bagi seluruh anggota organisasi.</li>
</ol>
<p align="justify"><em>Disiplin korektif</em> adalah upaya penerapan disiplin kepada karyawan yang nyata-nyata telah melakukan pelanggaran atas ketentuan-ketentuan yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan dan kepadanya dikenakan sanksi secara bertahap. Horald D. Garret. (1994) menyebutkan bahwa bila dalam instruksinya seorang karyawan dari unit kelompok kerja memiliki tugas yang sudah jelas dan sudah mendengarkan masalah yang perlu dilakukan dalam tugasnya, serta pimpinan sudah mencoba untuk membantu melakukan tugasnya secara baik, dan pimpinan memberikan kebijaksanaan kritikan dalam menjalankan tugasnya, namun seseorang karyawan tersebut masih tetap gagal untuk mencapai standar kriteria tata tertib, maka sekalipun agak enggan, maka perlu untuk memaksa dengan menggunakan tindakan korektif, sesuai aturan disiplin yang berlaku.</p>
<p align="justify">Tindakan sanksi korektif <span>seyogyanya dilakukan secara bertahap, </span>mulai dari yang paling ringan hingga yang paling berat. Sayles dan Strauss <span>menyebutkan </span>empat tahap pemberian sanksi korektif, yaitu: (1) peringatan lisan (<em>oral warning</em>), (2) peringatan tulisan (<em>written warning</em>), (3) disiplin pemberhentian sementara (<em>discipline layoff</em>), dan (4) pemecatan (<em>discharge</em>).</p>
<p align="justify">Di samping itu, dalam pemberian sanksi korektif seyogyanya memperhatikan tiga hal berikut: (1) karyawan yang diberikan sanksi harus diberitahu pelanggaran atau kesalahan apa yang telah<span> </span>diperbuatnya; (2) kepada yang bersangkutan diberi kesempatan membela diri dan (3) dalam hal pengenaan sanksi terberat, yaitu pemberhentian, perlu dilakukan “wawancara keluar” (<em>exit interview)</em> pada waktu mana dijelaskan antara lain, mengapa manajemen terpaksa mengambil tindakan sekeras itu.</p>
<p align=" justify">Burack (1993) mengingatkan bahwa pemberian sanksi korektif yang efektif terpusat pada sikap atau perilaku seseorang dalam unit kelompok kerja yang melakukan kesalahan dalam melakukan kegiatan kerja dan bukan karena kepribadiannya.</p>
<p align="justify">Untuk itu, dalam penerapan sanksi korektif hendaknya hati-hati jangan sampai merusak seseorang maupun suasana organisasi secara keseluruhan. Dalam<span> pemberian </span>sanksi korektif <span> </span><span>harus mengikuti prosedur yang benar sehingga tidak berdampak negatif terhadap moral kerja anggota kelompok. Ada beberapa pengaruh negatif bilamana tindakan </span>sanksi korektif <span>dilakukan secara tidak benar, yaitu: (1) disiplin manajerial, (2) disiplin tim, (3) disiplin diri.</span> (Robert F. Hopkins, 1996). <span>Pengaruh negatif atas penerapan tindakan </span>sanksi korektif <span>yang tidak benar akan berpengaruh terhadap kewibawaan manajerial yang akan jadi menurun, demikian juga dalam tindakan </span>sanksi korektif <span>dalam tim yang tidak benar dapat berakibat terhadap kurangnya partisipasi karyawan terhadap organisasi, dimana kerja tim akan menjadi tidak bersemangat dalam melaksanakan tugas kerja samanya, dan menjadi tercerai berai karena kesalahan tindakan disiplin tim.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/konsep-disiplin-kerja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baru Lulus? Jadilah Pengusaha</title>
		<link>http://alumni.smadangawi.net/baru-lulus-jadilah-pengusaha/</link>
		<comments>http://alumni.smadangawi.net/baru-lulus-jadilah-pengusaha/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 08:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alumni.smadangawi.net/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Jangan takut gagal ketika baru saja memulai usaha. Yang penting pede, dan teruslah bermimpi! Mengapa kini banyak orang mulai memilih membuka usaha sendiri? Tentu banyak sekali alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya faktor kebutuhan yang makin meningkat, seiring kenaikan harga di segala bidang. Berikut tips yang harus diperhatikan ketika akan memulai usaha bagi para pemula: Miliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Jangan takut gagal ketika baru saja memulai usaha. Yang penting pede, dan teruslah bermimpi!
</p>
<p align="justify">
Mengapa kini banyak orang mulai memilih membuka usaha sendiri? Tentu banyak sekali alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya faktor kebutuhan yang makin meningkat, seiring kenaikan harga di segala bidang.
</p>
<p align="justify">
Berikut tips yang harus diperhatikan ketika akan memulai usaha bagi para pemula:
</p>
<ol>
<li><strong>Miliki Impian!</strong>
<p align="justify">Bermimpilah jadi pengusaha sukses, punya uang banyak, bisa liburan ke luar negeri dan tempat-tempat eksoktis, atau tak perlu memikirkan pekerjaan lagi karena sudah punya banyak uang. Lalu bayangkan, dari mana uang itu bisa mengalir ke rekening Anda, atau dari usaha apa agar bisa sukses. Apakah akan jadi pengusaha restoran, garmen, atau lainnya? Bayangkan secara jelas, dan sedetail mungkin. Semua kesuksesan berdasar dari mimpi. Jadi, jangan takut berkhayal atau bermimpi.</p>
</li>
<li><strong>Realistis</strong>
<p align="justify">Setelah berkhayal, kembalilah ke realita. Kepala boleh di langit, tetapi kaki harus tetap menjejak bumi. Mulailah dari yang Anda punya, dan jangan membandingkan dengan milik orang lain. Jika mampu memasak dan hasilnya disenangi orang rumah, Anda berbakat membuka katering. Atau, sabar melatih anak, mampu dan terlatih mencarikan solusi bagi anak-anak yang kurang fokus belajar? Jadilah guru les dan pembimbing.</p>
</li>
<li><strong>Miliki Visi</strong>
<p align="justify">Mulailah membuat rencana bertahap. Buatlah kondisi dari nol dengan satu syarat, selalu melihat ke depan. Misalnya, tak punya uang tapi punya modal kemampuan. Jika punya uang Rp 500 ribu dan pintar masak, apa yang akan dilakukan agar bisa menghasilkan lebih. Lakukan bertahap, perlahan, sesuai kemampuan. Jika dilakukan dengan benar, lambat laun keuntungan akan mengikuti Anda.</p>
</li>
<li><strong>Susun Berbagai Rencana</strong>
<p align="justify">Ketika usaha mulai berjalan, jangan hanya memiliki satu rencana saja. Buat juga rencana B, C, atau D. Misalnya, setelah membuka warung tapi sepi pengunjung, mulailah berpikir kreatif dan jalankan rencana B. Jangan menunggu orang datang, tapi harus menjemput bola dan tawarkan kemudahan lain. Misalnya, memberi pelayanan delivery service. Jika rencana B ternyata belum berhasil, jalankan rencana C, dan seterusnya.</p>
</li>
<li><strong>Buatlah Anggaran</strong>
<p align="justify">Jika usaha sudah berjalan, buat anggaran pengeluaran dan pemasukan dengan rapi. Pisahkan antara pemasukan dan pengeluaran dari gaji suami atau istri untuk biaya sehari-hari, dengan hasil usaha. Sebaiknya, uang dipecah ke dalam dua rekening bank, dan jangan masuk ke dompet, agar tidak boros dan mudah melihat laba yang didapat.
</p>
<p align="justify">
Jika tak membuat anggaran dan hanya tambal sulam, Anda tak akan bisa melihat laba yang diraih. Yang ada, Anda justru tidak tahu apakah usahanya sukses atau gagal. Dengan membuat anggaran yang tepat, kesalahan yang muncul akan bisa dicari penyebabnya, dan dapat segera diperbaiki.</p>
</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alumni.smadangawi.net/baru-lulus-jadilah-pengusaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

